Kerja Keras & Waktu

Surabaya, eHealth, Sekilas mungkin tidak nampak bahwa wanita bernama dr. Ina Aniati Budiharto, seorang Kepala Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit – Higiene Sanitasi (P2P-HS) ini ternyata telah menginjak umurnya yang hampir ke-52. Penampilannya yang sederhana, ramah dan murah tersenyum ini membuat wanita asli Surabaya ini terlihat lebih muda dari yang diduga. “Tetapi terkadang orang mengira saya ini orangnya galak,” ujar dokter yang sangat disiplin waktu ini. “Tentu saja saya akan menjadi sedikit galak, atau tegas lebih tepatnya apabila ada orang yang tidak tepat waktu,” lanjutnya sambil tersenyum.

Satu tahun setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1982, kemudian Ia berangkat ke Tasikmalaya untuk menjadi dokter Inpres selama lima tahun langsung sebagai Kepala Puskesmas, salah satunya di Puskesmas Salopa yang membawahi 19 desa. “Dulu saya harus berjalan kaki dari desa ke desa, dan itu jaraknya tidak dekat. Berangkat pagi pulang sore,” kenangnya. Pengalaman yang tak terlupakan ketika menjadi Kepala Puskesmas di umur yang terbilang muda saat itu adalah ketika Ia harus melakukan Safari KB setiap hari dan menghadapi sebanyak kurang lebih 189 penderita diare.

Kemudian pada tahun 1988, Ia bertolak ke Surabaya mengikuti suami dan mendedikasikan dirinya di beberapa Puskesmas, yakni Puskesmas Tembok Dukuh, Menur, dan Jemursari. Tidak berhenti sampai disana, pada tahun 1994 Ia mencari pengalaman lebih banyak lagi di sebuah Rumah Sakit Umum Gorontalo selama kurang lebih dua tahun, kemudian Ia kembali lagi ke Pulau Jawa menjadi dokter kedua di Puskesmas Klampis Ngasem hingga akhirnya tahun 2005 menjadi Kepala Bidang P2P-HS.

Berbicara mengenai sepak terjang P2P-HS dalam menangani permasalahan kesehatan di Kota Surabaya, Ia menjelaskan bahwa P2P bergerak pada penanggulangan dan pencegahan penyakit yang umumnya banyak muncul di masyarakat seperti contohnya DBD, TBC, IMS, HIV-AIDS, diare, pneumonia, kusta, dan imunisasi. Melalui berbagai upaya seperti memberikan pengertian mengenai cara mencegah dan menghindari contohnya DBD melalui penyuluhan-penyuluhan. Tidak hanya melalui program Puskesmas tetapi Ia sendiri pun sering memberikan penyuluhan langsung pada masyarakat, seperti di sekolah-sekolah melalui program HIV-AIDS, lalu di acara-acara tertentu yang menyangkut permasalahan kesehatan dan lain sebagainya.

Ia menjelaskan terdapat tiga hal penting dalam penanganan atau pencegahan penyakit, yakni konsumsi makanan yang baik, imunisasi, dan kesadaran akan kebersihan lingkungan. “Makanan lah yang membentuk daya tahan tubuh kita, sehingga makanan menjadi sangat penting dan harus sangat diperhatikan,“ jelasnya. Masyarakat hendaknya sadar bahwa kesehatan adalah sebuah kebutuhan, sehingga dengan begitu rasa tanggung jawab terhadap keadaan kesehatan mereka pun ada dengan sendirinya,” jelasnya

Faktor utama timbulnya berbagai permasalahan kesehatan di Surabaya sangatlah kompleks seperti halnya jumlah penduduk yang begitu banyak di Kota Surabaya. “Jumlah penduduk tinggi berarti semakin banyak problem karena produk yang dihasilkan pun banyak,” tandas ibu dari dua orang anak ini. Produk yang dihasilkan seperti contohnya limbah, maupun produk-produk makanan, barang dan lain sebagainya. Tiga faktor penting penyebab sakit yakni house, agent, dan lagi-lagi environment. Ia menjelaskan bahwa sama seperti upaya pencegahan diatas, faktor penyebab sakit ini dipengaruhi awalnya adalah dari rumah dimana kita membentuk pola hidup disana, kemudian agent disini adalah kuman-kuman penyebab penyakit, sedangkan yang terakhir adalah lingkungan tempat kita tinggal. “Lingkungan disini bukan hanya daerah sekitar kita saja, tetapi mencakup daerah yang berada di antara kita,” ujar dr. Ina. Lingkungan tempat seseorang tinggal sangat mempengaruhi pola hidup seseorang. “Misalnya kita orang yang bersih tetapi tinggal di tempat kotor, ya sama saja,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi selama menjadi Kabid P2P-HS menjawab bahwa pekerjaan merupakan tantangan dan ajang untuk menggali potensi yang dimiliki. “Ada yang bilang bahwa orang itu hanya memakai 5% kemampuannya, sedangkan 95% lainnya ada saat mereka dalam keadaan terdesak seperti contohnya tuntutan pekerjaan,” jelas dr. Ina yang memiliki cita-cita untuk menjadi dokter dari kecil.

Tetapi di setiap pekerjaan tentu saja ada kendala yang dihadapi, ia pun mengungkapkan bahwa selain permasalahan disiplin waktu, Ia merasa sangat tidak nyaman apabila harus bekerja diluar jam kerja, seperti contohnya hari keluarga. “Terkadang saya harus bekerja lebih dari waktu bekerja saya yang seharusnya, istilahnya lembur lah, padahal waktu untuk bertemu keluarga saya sendiri terkadang sedikit,” jelasnya, “Tetapi hal itu tidak mematahkan semangat saya karena hal tersebut merupakan proses kehidupan yang harus dilewati,” lanjutnya.

Terkadang apabila semangatnya mulai menurun, keluarganya lah yang malah memberinya angin segar untuk tetap menghadapi tantangannya, “Alhamdulillah keluarga tidak masalah dengan kesibukannya, suatu saat suami saya malah mengungkapkan ‘mau dikemanakan kepintaran kamu jika kamu berhenti bekerja?’ pada saya,” ujar dr. Ina mengingat dukungan keluarga terhadap pekerjaannya. Putri pertama dr. Ina telah menjadi dosen di sebuah Universitas Negeri yang ada di Kota Surabaya, sedangkan anak keduanya masih menempuh studi semester enam di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Selain mempelajari mengenai kesehatan, dr. Ina pun tidak menutup matanya dari ilmu lain seperti komunikasi. “Saya mulai tertarik dengan komunikasi saat mengikuti Outbound yang menghadirkan dosen komunikasi dan berbicara mengenai komunikasi diantara manusia,” jelasnya. Hobinya membaca buku-buku mengenai komunikasi antar personal, atau lebih tepatnya buku motivasi. “Selalu ada buku di tas saya, apa pun itu, untuk mengisi waktu untuk mengisi waktu lenggang,” jelasnya. Ia mengungkapkan bahwa banyak sekali perubahan dalam dirinya setelah membeli dan membaca berbagai macam buku mengenai komunikasi dan motivasi. “Saya jadi tahu kenapa ada orang sifatnya seperti ini dan itu, dan kenapa saya juga terlihat judes, “ jelas dr. Ina sambil tertawa. “Saya hanya ingin di umur saya yang setengah abad ini saya menjadi lebih baik,” lanjutnya dengan senyum khasnya. Semenjak itu pula Ia selalu membubuhkan kata-kata motivasi di setiap akhir slide presentasinya.

Sebelum menutup wawancara, dr. Ina berpesan pada masyarakat mengenai kesehatan bahwa sebenarnya semua muara permasalahan kesehatan adalah ada pada pola hidup kita, perilaku yang mempengaruhi seseorang untuk memilih makanan yang mereka makan atau pun keadaan yang akan dihadapi. “Sehat harapan kita dan hal itu merupakan kebutuhan kita,” jelasnya. Sedangkan pesan untu para staff kesehatan, yakni mengenai disiplin dan tanggung jawab untuk tetap ditingkatkan. “Jangan bekerja karena uang, bekerjalah karena kepuasan kita, yakni kepuasan ketika kita meraih kesuksesan atas perjuangan kita menghadapi tantangan dan berhasil,” tuturnya menutup wawancara.(fie)

Reporter: Dian Sofianty P

Perihal abasozora
i miss u mama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: